Minggu, 22 Januari 2012

Sebuah Keputusan Chap. 10

Suatu hari gue pernah bertanya sama diri gue sendiri, "mampukah gue jalanin ini semua sampai akhir?" dan gue selalu menjawabny dengan yakin, "yah gue yakin, gue bisa". Tapi kadang gue ngerasa apa yang udah gue laksanakan dan gue jalanin itu berasa ngga ada artinya ketika gue dipertemukan pada sebuah pilihan yang sama sekali ngga pernah gue inginkan. Dan hal itu diperparah dengan seringnya gue dikasih bayangan - bayangan serta harapan kosong melompong.
Ya ampun, apapun itu gue benci banget kalau hal itu benar - benar terjadi. Sialnya lagi, apapun yang terjadi gue harus tetap mengambil keputusan. Masalah hasil itu belakangan. Gue mungkin terbilang orang yang cukup berani mengambil keputusan tanpa adanya keraguan. Tapi, selalu aja khayalan itu selalu menghampiri gue. Gue tau itu de ja vu, tapi haruskah hal itu gue alamin sampai ketika gue sholat? Astaghfirullah... Subhanallah... Walhamdulillah... Wallahuakbar... Apapun itu, hal ini jelas udah mengganggu hidup gue. Gue udah terlalu memaksakannya, sisanya memang kembali kepada-Nya. Gue udh terlanjur pasrah, gue ngga tau mesti gimana lagi. Ini jelas udah diluar kemampuan hati dan pikiran gue. Gue ngga sanggup untuk menjalani hal yang seperti ini. Gue cuman bisa berharap adanya jalan keluar buat masalah gue.
Gue bukan tipe anak yang suka galau, karena gue anak yang lebih mengandalkan logika berpikir gue ketimbang perasaan. Gue selalu bisa menemukan jalan keluar untuk beberapa masalah gue dan gue ngga pernah mempermasalahkannya seperti masalah tanpa jalan keluar. Tapi untuk yang satu ini agak sulit karena terlalu abstrak dan begitu atraktif.

Minggu, 22 Januari 2012
Butuh kompas untuk membimbingku keluar dari kesesatan ini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar